Dapur Minimalis Ala Emak Modern

Minimalis Sebuah Gaya Hidup Sederhana Yang Menyelamatkan segalanya.
Belajar dari Uda Fadli, yang berbagi cara hidup sederhana ala anak muda sayapun juga jadi tertarik untuk menulis serta menerapkan  gaya hidup sederhana ala emak-emak rumahan.

"Minimalis atau pelit?" Itu adalah pertanyaan pertama yang ditunjukkan suami kepada saya waktu saya menerangkan beberapa gaya hidup minimalis yang akan saya terapkan sehari-hari di rumah. 

Yang paling penting sebenarnya adalah masalah makanan. Sebelumnya suami sangat jarang bawa bekal makan ke kantor. Kira-kira bakal malu-maluin nggak ya? Layak makan nggak masakan saya. Tapi semua ke khawatiran tersebut luntur karena ternyata banyak dari teman-teman satu kantor yang bawa bekal makan siang juga setiap hari.

Oh ya, kami pada istri punya juga dong whatsapp group. Jadi ada apa-apa bisa sharring. Seringnya sih berbagi resep menu masakan. Tapi sering juga buat sarana curcol. Nggak papa, yang penting bermanfaat.

Berawal dari kerinduan kampung Halaman.

Saya berasal dari Ngawi. Kota yang terkenal serba murah, rakyatnya makmur gemah ripah loh jinawi. Bisa dibilang sejak kecil sangat jarang beli beras, sayur-sayuran dan buah-buahan karena selalu tersedia di kebun dan sawah milik keluarga. 

Begitu juga dengan ayam, telur dan kolam ikan. Hahahaha mendadak pengen mudik kalau ingat begini.

Ritme hidup yang serba mudah membuat hidup menjadi nyaman dan damai. Nggak terlalu memaksakan diri mengejar rezeki. Dan rasanya hal itu tertanam dalam alam bawah sadar saya. Sayang beberapa tahun belakangan ini hidup jadi agak berubah. Saya jadi kehilangan ketenangan selama ini.

Terdampar di kota minyak
Saat ini saya berdomisili di kota Balikpapan. Satu kota yang terkenal dengan tingkat kemahalan kebutuhan sehari-harinya. Dulu awal tinggal disini saya agak shock. 

Tapi hidup toh harus tetap berjalan. Seberapa susahnya bertahan ya harus tetap semangat. Kalau nggak cukup ya harus diakali bagaimana caranya agar cukup. 

Lalu teringat dengan beberapa teman suami. Secara gaji mereka bahkan lebih dibawahnya suami. Punya anak 2-3, membiayai sekolah, bahkan masih ada yang ngontrak rumah. Kalau mereka bisa bertahan hidup Bukankah harusnya saya lebih bisa?

Hari ini saya pengen menulis sedikit rahasia dapur Minimalis ala dapur saya. Bismillah, niat menulis kali ini sama sekali nggak ada niat menggurui ya Mom's. Ini hanya sebagian kecil dari tips dan trick dari saya murni agar bisa menambah pundi-pundi tabungan demi impian besar saya yang belum terwujud.

Usia semakin menua, kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Kesehatan mulai menurun. Kalau terus-terusan hidup boros, jajan diluar lalu kapan bisa sehat? Msg, gula tinggi, minyak-minyak goreng, rendah serat bisa menjadi kekhawatiran yang nyata.

Kapan bisa menabung buat impian besar? Takutnya sebelum bisa melakukan banyak kebaikan, belum sempat menunaikan ibadah haji malah sudah sakit-sakitan.
Duh padahal untuk biaya haji sendiri biayanya tak juga sedikit. Slot waiting List di Balikpapan sendiri 26 tahun. Saya harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang dua kali lipat dari biasanya agar bisa berhaji. Itu yang terbesit dalam fikiran saya saat itu saat belum memiliki tabungan haji.

Pembukuan Dapur Keluarga

Beberapa bulan terakhir saya benar-benar membukukan pengeluaran harian, masalah terbesar saya adalah biaya makan.  Sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Biaya sekali makan termurah di Balikpapan pasti antara Rp 15.000 - Rp 35.000, dikali 2 karena suami juga otomatis jajan diluar dan terakhir dikali 30 hari. Dan jujur saya agak terkejut karena jumlahnya fantastis banget. Anggap sekali makan Rp 25.000 x 3 : Rp 75.000 x 2 = 150.000 x 30 = Rp 4.500.000 . 

Kalau saja bisa ditabung 50% dari pengeluaran makan tersebut sudah lumayan banget. Padahal jujur nominal sekali makan kadang lebih dari segitu, apalagi pas makan dengan teman-teman sekali makan minimal Rp 50.000 - Rp 100.000. Saya harus secepatnya berubah nih agar tidak berlarut-larut borosnya.

Ternyata salah satu keborosan saya hanyalah urusan perut. Kenapa pula sekarang di marketplace isinya pre order kuliner, di aplikasi ojek online serta aplikasi pemesanan ticket pesawat isinya promo makanan meskipun sudah diskon ya tetep saja mahal. Kalau sesekali nggak papa ya, tapi kalau tiap hari?

Padahal hal tersebut bisa diakali dengan membawa bekal makan. Saya hanya perlu bangun 1/2 jam lebih cepat, habis subuh nggak boleh tidur lagi (berat sumpah ini berat) selain lebih hemat juga akan lebih sehat. 

Kami (saya dan suami) saat ini hanya tinggal berdua. Jadi please jangan disamakan dengan yang tinggal bertiga ataupun berlima. Sudah pasti budget pengeluarannya tidak bakal sama. 

Dulu waktu masih tinggal bersama dengan ibu mertua saya termasuk yang paling bahagia. Urusan dapur dan  segala sesuatunya diatur mamak mertua. Tinggal kasih uang bulanan beres. karena saya kebetulan sibuk di toko jadi urusan dapur beliau yang atur. Pagi-sore-malam selalu ada masakan yang mengenyangkan. Bahkan makan siang dianterin ke toko dalam keadaan panas-panas (maka nikmat punya mertua sayang manalagi yang akan aku dustakan?)  Lagipula masakan mama mertua itu ter the best jadi saya sih nggak pengen merebut daerah kekuasaan beliau, wkwkw (alasan clasic menantu kesayangan *malas)

Nah setelah tiga tahun tinggal dirumah sendiri ini saya kebingungan dengan keuangan yang mengalir bak air bah. Suami kerja, istri punya usaha tapi tabungan minus? Lalu salahnya dimana? Bahahaha sumpah merasa tertuduh gitu soalnya suami sudah memasrahkan segalanya kesaya, eh belum akhir bulan tabungan sudah kosong saja.

Sehat itu mahal? Ah nggak juga.

Sebulan Rp 2.000.000 cukup nggak sih? Awalnya saya tertawa ngakak dengan kegilaan tersebut. Niat hidup ingin minimalis atau kurang nutrisi nih? Tapi jujur ini jadi tantangan tersendiri, terlebih suami sudah menyerahkan segala sesuatunya kepada saiya sebagai pemegang kekuasaan dapur.

Saya nggak boleh egois. Selain sederhana harus memastikan kebutuhan nutrisi, gizi dan vitamin terpenuhi. Apalah artinya hidup sederhana tapi malah sakit-sakitan. Biaya ke dokter dan rumah sakit mahal kakak. Nggak semuanya tercover BPJS.

Kebutuhan selama sebulan di dapur sehat saya

- Listrik Rp 300.000
-Pulsa + kuota : 250.000
- Pdam Rp 100.000
- Gas melon (2) Rp 40.000
- Sembako Rp 250.000
- Daging, ayam, ikan Rp 400.000
- Sayur mayur Rp 150.000
- Buah - buahan Rp 400.000

Setelah bikin list belanja satu bulan saya bahagia banget dong ya karena totalnya hanya Rp 1.900.000 masih ada banyak sisa dari yang biasa saya keluarkan tiap bulannya hanya untuk biaya makan. Wish me luck.

Tips agar kebutuhan dapur tercukupi dengan budget yang terbatas.

-Belanja kebutuhan dapur ke Pasar tradisional. Beberapa barang dijual sangat murah di pasar tradisional ketimbang di minimart. Dalam kasus tertentu saya memilih membeli di nenek-nenek yang sudah tua dan tanpa menawar harganya. Barangnya dapat sedekahnya pun tepat sasaran.

- Belanja ke minimart (giant dan hypermart) di jam-jam sore/malam. Banyak roti, sayur, buah dan ikan/daging dijual dengan harga diskon 20-50%

- Beli beberapa barang pada saat diskon. Tapi pastikan hanya beli 1-2 pcs. Perhatikan tanggal expirednya.
Beberapa barang sengaja di diskon karena tanggal berlakunya sudah mendekati expired date.

- Apabila belum diperlukan tak perlu kalap belanja seperti orang lain hanya gara-gara transferan gaji sudah masuk ATM.

- Beli kemasan kecil.
Berbeda dengan beberapa orang yang menyarankan membeli dalam kemasan besar lebih murah. Tapi untuk kepraktisan saya menyarankan membeli dalam kemasan kecil, selain lebih murah, tertata rapi juga alam bawah sadar kita akan terbentuk agar selalu berhemat.

-Food preparing
Selain lemari es kita tertata rapi, bahan makanan juga akan lebih awet. susun sayuran dll dalam kotak sayuran yang rapi. Beri alas kain atau tisyu dapur untuk mencegah cepat berair.

Get notifications from this blog

20 komentar

  1. Kalau ada diskon jangan kalap juga ya kak, haha, meski sih memang jadi bermanfaat untuk berhemat, apalagi di masa seperti sekarang perlu juga untuk food preparation

    BalasHapus
  2. Dari Ngawi ke Balikpapan?
    Hahaha selamat, selamat jadi tambah pinter maksudnya
    Karena salah satu kunci keluarga bahagia jika sang istri bisa menjadi menteri keuangan yang handal
    Sukses ya

    BalasHapus
  3. Masya Allah mahal juga ya biaya makan di Balikpapan kalau jajan di luar. Hahaha beda banget lah pastinya dengan di Ngawi yang tinggal petik-petik di kebun :D
    Memang kudu hemat ya Mbak, apalagi ada impian ke tanah suci. Semangat, Mbak :)

    BalasHapus
  4. Informatif banget nih Mbak. Terima kasih tipsnya , boleh juga nih saya tiru, hehe. Jadi kalau ingin mewujudkan dapur minimalis bukan cuma tampilan dapurnya aja ya yang dibuat minimalis tapi kebutuhan dapurnya juga. Noted nih.

    BalasHapus
  5. Saya termasuk lemah dalam managemen dapur. Bahkan tak ada managemen khusus karena penghasilan saya harian. Untuk keperluan dapur, tak mengandalkan gaji bulanan suami. Gaji bulanan sudah dialokasikan ke pos yang lain.

    Beruntung kami terbiasa makan apa yang ada aja. Anak-anak juga mau makan semua masakan yang disajikan dan tak terlalu pilih-pilih. Mentok-mentoknya kalau semua menu mereka kurang berselera ya bikin telor dadar, beres. Hehe ....

    BalasHapus
  6. Boleh juga kak tipsnya bisa dicontoh nih. Emang ya kebutuhan sehari2 itu kadang tak terkendali perasaan sdh dihemat dan disiasati eh ada aja loss nya jd engga nabung lagi deh hehe..semangat ya kak

    BalasHapus
  7. Kalau bisa nahan nggak jajan di luar pasti bisa nabung banyak. Masak sendiri dan rutin bawa bekel ke kantor juga selain irit lebih sehat. Seru juga sih bisa food preparing kulkas juga lebih rapi

    BalasHapus
  8. Daku termasuk pemburu diskon, Mak. Pokoknya, belanja minyak itu selalu nyari supermarket terdekat yang lagi diskon hehe. Kalo ga diskon ga beli, belinya pun kalo pas mau habis. Jangan nunggu sampai habis baru kelabakan.

    Dan yes.. Daku selalu senang belanja di pasar tradisional. Kecuali untuk sayur atau buah tertentu yang ga ada di pasar tradisional. Terus mau icip icip. Jadilah beli di supermarket yang emang harganya waw. Tapi ini juga ga sering.

    Intinya emang kitanya harus mau repot yaa, Kak.

    BalasHapus
  9. bener nih, jangan lewatkan diskon atau promo ya. hihi. jadinya bisa lebih irit lagi deh. terus saya belanja juga banyak buat langsung seminggu kadang sama tukang sayur suka dibonusin apa aja gitu karena belanja banyak haha. bener banget tips diatas.

    BalasHapus
  10. Wah mahal juga biaya makan di luar di Balikpapan ya kak.

    Jomplang banget bedanya pas masak sendiri ya .

    Saya pun di rumah selalu masak sendiri biar hemat .apalagi pas tanggal tua . Hahaha

    BalasHapus
  11. Mba Aisyah,, saya di masa #stayathome gini pengeluaran buat masak kayaknya 2x lipat deh, anak² ngemil terus,, bikin donat kentang, puding coklat dll.

    BalasHapus
  12. Memang pengeluaran terbesar itu suka bocor di post makan dan jajan mbak, huhuhu. Sudah dibudget-in tapi tetap aja jebol. Biasanya sih saya ngandelin duit blog biar bisa jajan-jajan, jadi uang makan tetap dari gaji. Tapi semenjak wabah covid ini saya jadi lebih sering masak sih, ehehhe.

    BalasHapus
  13. Masya Allah, gede banget ya Say biaya hidup di Balik Papan. Tapi keren dirimu bisa menjadikannya minimalis (atau irit - menirukan suamimu lho ini. Wakakaka).

    Sangat menginspirasi. Ntar ambil buku dah biki coret-coretan. Makasih Say. Bahagialah selalu kalian.

    BalasHapus
  14. Kirain tuh artikel tentang desain dapur minimalis hihihi
    Ternyata aktifitas perdapuran yang minimalis
    Food preparing tuh penting banget, menghemat energi juga biaya tentunyaa

    BalasHapus
  15. Emang membantu banget sih aktifitas memasak sendiri di rumah. Jauuuuh lebih hemat daripada jajan terus di luar

    BalasHapus
  16. Emang mbak, kalo kita hitung-hitung sih masih terjangkau. Tapi aku pernah juga hitung-hitung biaya selama 1 bulan, aku sudah hitung dan di totalkan nanti dalam 1 bulan bakal ada pengeluaran segini, tapi saat di jalanin semua berbeda keluaran makin membengkak. itu aku

    BalasHapus
  17. Dapurnya kece,Mbaak. . Saya jadi terinspirasi untuk menata ulang dapur di rumah mumpung suami WFH juga. Ttg pengaturan keuangan keluarga, pos terbesar kami adalah cemilan. Ini kalo kata konsultan finansial, termasuk latte factor yg menggerogoti isi dompet. Sayangnya di lapangan, kesadaran latte factor hanya kesadaran tak berdaya, alias sebatas teori.hihi..

    BalasHapus
  18. Keceh banget ini tipsnya, suka bacanya tapi kalau kami mana bisa beli kemasan kecil. Pasalnya di rumah lebih dari 4 orang hihi..... Tapi kalau tinggal berdua atau bertiga tentu saja belanja porsi kecil lebih hemat dan juga proses diet alami jadinya

    BalasHapus
  19. Biaya hidup di kota Balikpapan itu besar ya Mbak, saya saja yang tinggal di Padang pesan ke istri kalau kita harus bisa bertahan dengan maksimal 2 juta per bulan, itu sudah termasuk biaya kontrakan. Akhirnya kami mulai belajar konsep hidup minimalis juga, hhe

    BalasHapus
  20. Di Kalimantan katanya serba mahal ya mba. Makanya saudara saya semua merantau ke sana, berdagang, sebab cuannya lebih besar ketimbang dagang di Padang. Hehehe. Yups bener banget, kita harus mempraktikkan hidup sederhana. Bukan karena pelit sih, tapi ya bukankah sederhana itu lebih baik? Ada masanya juga kok kita sedikit loyal buat diri sendiri. Tapi kan gak harus tiap hari. Hihihi.

    BalasHapus

Hai... Maaf komen dimoderasi dulu sebelum dipublikasi ya