Buku, perpus dan hijrahku


Awalnya aku bingung untuk menceritakan bagaimana awal mula kedekatanku dengan buku. Terlalu sulit untuk diceritakan. Karena mengingatnya saja bagiku seperti menguak serpihan kecil serta kenangan indah di masa lalu, empat belas tahun silam.

Tapi ketika sudah mulai menuangkan kata demi kata didalamnya aku merasa hanyut,  kenangan masa laluku yang tak mungkin terulang lagi. Semoga ada manfaat yang diambil dari ceritaku ini ;)

Empat belas tahun silam, tepatnya ketika aku mulai memasuki bangku SMk.

Saat itu, kehidupan rumah tangga orang tuaku tidak bisa dibilang harmonis seperti sekarang ini. Dengan berbagai pertimbangan keluarga besar dan demi kebaikan perkembangan mentalku nenek menyuruhku untuk tinggal di rumahnya yang terletak di kota Tebing Tinggi, Sumsel.


Awalnya aku benar-benar merasa tidak sanggup tinggal disana. Perbedaan budaya, bahasa, agama, makanan serta jauh dari orang tua membuatku sering menangis dan bersedih. Sifatku berubah perlahan-lahan dari yang biasanya riang menjadi pendiam.

Aku banyak menutup diri dari teman-temanku, begitu juga mereka. Aku benar-benar menjadi sosok Alien bagi mereka. Apalagi aku adalah satu-satunya yang beragama kristen protestan di kelas. Lengkap sudah kesendirianku, setiap kali pelajaran agama islam aku keluar kelas. Kemana lagi pergiku? Tentu saja perpustakaan.

Diperpustakaan aku benar-benar menemukan duniaku. Aku tak perlu memiliki teman, karena buku-buku itu sudah menjadi teman yang mengerti akan kebutuhanku. Aku menemukan teman yang mengisi kekosongan jiwaku. Setiap hari ketika istirahat teman-teman sibuk membeli makanan di kantin aku malah pergi ke perpustakaan. Lagipula dulu aku tidak suka makanan yang namanya empek-empek, model apalagi tekwan. Sementara ketiga makanan itulah yang tersedia di kantin sekolahku.

Aku berubah menjadi orang yang haus akan buku, rasa-rasanya hampir semua buku di rak perpustakaan sekolahanku sudah aku lahap. Mulai dari buku cerita rakyat, novel, kumcer, koran, dan majalah semua pernah aku baca. Satu-satunya buku yang belum aku sentuh adalah buku-buku yang berisi ajaran agama Islam, aku melihat kalau ada tulisan Arab serta bahasanya yang agak aneh itu pasti buku agama Islam, makanya aku pasti jauh-jauh dari rak buku Islam.

Hidayah itu datang.



Satu waktu, di rak novel ada satu buku bercover warna biru. Judulnya Aisyah, kekasih yang terindah. Entahlah meskipun tahu itu buku Islam aku tertarik untuk membacanya. Dan begitu saja mengalir aku benar-benar suka membaca lembar demi lembar kisah dari Ummu Aisyah. Bagaimana pernikahannya dengan Rasulullah, jujur disitulah perkenalanku dengan Islam.

Dari satu buku ke buku lain, aku menjadi kecanduan membaca buku-buku islam yang ada di perpustakaan sekolahku. Sampai aku terpergok wakil kepala sekolah saat membaca buku Islam. Saat itu aku ketakutan, karena Bapak Azhari terkenal sangat galak. Kukira saat itu aku akan dihukum. Tapi ternyata tidak, aku malah dipinjaminya buku-buku islami yang awalnya membuatku sangat muak.

Apalagi ketika buku perdebatan Islam-Kristen, buku yang sangat tebal itu tiap ada kesempatan aku baca, aku cari kebenarannya dengan membandingkan AL KITAB dan AL QUR”AN. Hingga akhirnya hidayah itu datang, pemahamanku dari buku menuntun jalanku mengenal Islam. Meski harus kuakui besar sekali peranan guru-guru di Talang Banyu yang menuntunku.

Berawal dari Buku berjudul Aisyah, Aku ingin menjadi pribadi Ummi Aisyah dan akhirnya Semua guru-guru yang menjadi saksi Hijrahku memeluk agama Islam memberiku nama Aisyah. Buku itu masih aku simpan karena akhirnya pak Adi pengurus perpustakaan memberikannya kepadaku.


PS : Coretan ini diikutkan kuis bagi-bagi bukunya mbak Uci yach..

http://bruziati.multiply.com/journal/item/178/Kuis_Bagi-Bagi_Buku_The_First_Time...


No comments